
Jakarta, 22 Februari 2026 – Aktivitas di kawasan hunian vertikal Kalibata City, Jakarta Selatan, tampak sedikit berbeda pada Sabtu sore (22/2). Di salah satu area terbuka kompleks tersebut, puluhan petugas keamanan dan kebersihan berkumpul bukan untuk menjalankan tugas rutin, melainkan menerima paket bantuan dalam sebuah kegiatan sosial yang digagas oleh Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi.
Kegiatan ini digelar bertepatan dengan momentum bulan penuh berkah, dengan tujuan memberikan apresiasi kepada para pekerja yang selama ini berperan menjaga keamanan dan kebersihan lingkungan apartemen yang dihuni ribuan warga tersebut. Paket yang dibagikan berupa santapan berbuka puasa dan kebutuhan pokok sehari-hari.

Sebagai kawasan hunian dengan tingkat mobilitas tinggi, Kalibata City beroperasi hampir tanpa jeda. Keluar-masuk kendaraan, aktivitas penghuni, layanan pengiriman barang, hingga kegiatan komersial berlangsung sejak pagi hingga malam. Dalam situasi tersebut, petugas keamanan dan kebersihan memegang peran sentral.
Petugas keamanan bertugas dalam sistem shift 24 jam, memastikan ketertiban dan meminimalkan potensi gangguan. Sementara itu, petugas kebersihan menjaga area publik seperti lobi, lift, taman, dan koridor tetap rapi dan higienis.
Salah seorang petugas keamanan yang telah bekerja lebih dari enam tahun mengatakan bahwa pekerjaan mereka menuntut kesiapsiagaan penuh. “Kami harus tetap fokus, terutama di jam-jam sibuk. Tanggung jawabnya besar karena menyangkut kenyamanan dan keselamatan banyak orang,” ujarnya.
Di sisi lain, seorang petugas kebersihan mengungkapkan bahwa beban kerja meningkat saat akhir pekan dan musim hujan. “Volume sampah bisa bertambah, dan kami harus memastikan semuanya tetap bersih sebelum penghuni beraktivitas kembali,” katanya.
Dalam sambutannya, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen sosial yang telah lama dijalankannya. Ia menekankan pentingnya menghargai setiap profesi.
Apresiasi tidak selalu harus besar. Kehadiran dan perhatian tulus sudah menjadi bentuk penghormatan. Mereka adalah bagian penting dari kehidupan kita sehari-hari,” tuturnya di hadapan para penerima bantuan.
Ia juga menambahkan bahwa kepedulian sosial seharusnya menjadi budaya bersama, bukan sekadar agenda musiman. Menurutnya, lingkungan yang harmonis lahir dari rasa saling menghargai antarindividu.
Kegiatan ini turut melibatkan relawan dan sejumlah tokoh masyarakat yang membantu proses distribusi paket bantuan. Pembagian dilakukan secara tertib dengan pendataan sebelumnya untuk memastikan seluruh petugas yang bertugas mendapatkan bagian secara merata.
Perwakilan pengelola kawasan menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Mereka menilai dukungan moral seperti ini dapat meningkatkan motivasi kerja para petugas.

Namun, sejumlah pengamat sosial mengingatkan bahwa aksi sosial perlu diiringi dengan perhatian terhadap aspek kesejahteraan jangka panjang. Menurut mereka, selain bantuan insidental, penting juga memastikan perlindungan kerja, jaminan kesehatan, serta sistem kerja yang adil bagi para pekerja sektor jasa penunjang hunian.
Bagi para penerima, kegiatan tersebut bukan semata soal isi paket yang diterima, melainkan pengakuan atas kontribusi mereka. “Kami merasa dihargai. Setidaknya ada yang melihat dan peduli dengan pekerjaan kami,” ujar salah satu petugas kebersihan dengan mata berkaca-kaca.
Aksi sosial ini menjadi pengingat bahwa di balik kenyamanan hunian modern, terdapat tenaga-tenaga yang bekerja tanpa banyak sorotan. Tantangan fisik, jam kerja panjang, serta tuntutan profesionalisme menjadi bagian dari rutinitas mereka.
Melalui kegiatan tersebut, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi berharap semakin banyak pihak tergerak untuk memberikan perhatian serupa di lingkungan masing-masing. Ia menegaskan bahwa membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan dimulai dari langkah-langkah sederhana yang konsisten.
Kegiatan di Kalibata City sore itu pun ditutup dengan doa bersama dan suasana kebersamaan. Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, momen tersebut menjadi jeda yang mengingatkan bahwa solidaritas sosial tetap memiliki ruang untuk tumbuh.


