
SIDOARJO, 4 Maret 2026 – Upaya membangun wadah resmi bagi para pelaku seni dangdut di Jawa Timur akhirnya terwujud. Organisasi INSAN DANGDUT JAWA TIMUR (IDJ) kini resmi mengantongi legalitas setelah proses pengesahan akta organisasi ditandatangani di hadapan notaris Achmad Syaiful Rizal, SH. Dengan status badan hukum tersebut, IDJ memiliki dasar formal untuk menjalankan berbagai program pembinaan, koordinasi, serta advokasi bagi para pelaku industri dangdut di wilayah Jawa Timur.
Momentum legalisasi ini berlangsung dalam situasi yang cukup mengharukan. Salah satu penggagas organisasi diketahui sedang menjalani perawatan kesehatan, namun hal itu tidak menghentikan proses administrasi yang telah lama dipersiapkan. Bagi para pendiri, penyelesaian proses legalitas ini menjadi simbol kuat bahwa komitmen membangun dunia dangdut tidak boleh berhenti oleh keadaan apa pun.

INSAN DANGDUT JAWA TIMUR diprakarsai oleh Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi, Thahirah Azzah Zhafirah, dan Lailul Chamdiyah Maksum. Ketiganya merupakan sosok yang memiliki keterlibatan langsung dalam aktivitas seni pertunjukan dangdut, sehingga memahami dinamika yang dihadapi para seniman di lapangan.
Menurut para penggagas, Jawa Timur dikenal sebagai salah satu daerah dengan aktivitas pertunjukan dangdut yang sangat tinggi. Hampir setiap pekan digelar berbagai acara hiburan rakyat, hajatan, hingga festival yang menghadirkan penyanyi dangdut sebagai daya tarik utama. Namun di balik ramainya panggung hiburan tersebut, sistem pengelolaan industri dinilai masih belum sepenuhnya tertata secara profesional.

Banyak penyanyi, pemusik pengiring, kru panggung, hingga pekerja teknis yang menjalankan pekerjaan tanpa kontrak tertulis atau kesepakatan kerja yang jelas. Kondisi ini seringkali menimbulkan ketidakpastian terkait honorarium, jadwal kerja, hingga perlindungan profesi apabila terjadi sengketa.
Selain itu, kesempatan untuk mengikuti pelatihan peningkatan kualitas—baik dalam hal teknik vokal, penguasaan panggung, manajemen artis, maupun tata kelola pertunjukan—masih belum merata di kalangan pelaku seni.
Melihat kondisi tersebut, para pendiri IDJ sepakat bahwa diperlukan sebuah organisasi yang mampu menjadi wadah kolektif bagi para pelaku dangdut, sekaligus mendorong peningkatan profesionalisme di dalam industri hiburan tersebut.
Ketua IDJ, Lailul Chamdiyah Maksum, menjelaskan bahwa organisasi ini tidak hanya dibentuk sebagai simbol kebersamaan, tetapi dirancang untuk menjalankan program nyata yang menyentuh kebutuhan para anggota.

Menurutnya, peningkatan kualitas pertunjukan harus berjalan seiring dengan pembenahan manajemen kerja di balik panggung. Tanpa tata kelola yang baik, perkembangan karier para seniman akan sulit mencapai tahap yang lebih profesional.
“Dangdut adalah seni yang sangat dekat dengan masyarakat. Namun agar tetap berkembang dan dihargai sebagai profesi, perlu ada penguatan pada aspek manajemen, etika kerja, serta perlindungan bagi para pelaku seninya,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, IDJ tengah menyiapkan sejumlah agenda strategis, antara lain:
Pelatihan teknik vokal dan pengembangan karakter panggung bagi penyanyi dangdut
Workshop manajemen artis dan pengelolaan pertunjukan
Forum diskusi industri hiburan untuk meningkatkan literasi hukum dan kontrak kerja
Pembinaan bagi Event Organizer (EO) agar tata kelola acara lebih profesional
Penyusunan standar kerja sama yang transparan antara seniman dan penyelenggara acara
Program-program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pertunjukan sekaligus memperkuat posisi para seniman dalam industri hiburan.
Pembina IDJ, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi, menekankan pentingnya keberadaan organisasi ini sebagai ruang advokasi. Ia menilai bahwa selama ini banyak seniman bekerja secara individu tanpa dukungan sistem yang memadai.
Dengan adanya organisasi resmi, para anggota diharapkan dapat saling berbagi informasi, memperkuat solidaritas, serta memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menjalin kerja sama profesional.
“Ketika para seniman bersatu dalam sebuah wadah yang jelas, mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Ada ruang untuk berdiskusi, mencari solusi, dan memperjuangkan kepentingan bersama,” ungkapnya.

Untuk memastikan program berjalan secara terarah, IDJ telah membentuk struktur kepengurusan di tingkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) serta Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Sidoarjo.
Pembina: Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi
Ketua: Lailul Chamdiyah Maksum
Sekretaris: Chandra Likayana, S.Pd
Pengawas: Dwi Cahyo
Bendahara: Thahirah Azzah Zhafirah
Ketua: Chandra Likayana, S.Pd
Sekretaris: Alwan Suyuti
Bendahara: Stefani, SH
Penasihat: H. Syamsul Huda, SH, M.H
Penasihat: Hj. Erna Zaelani
Sebagai pusat aktivitas organisasi, IDJ menetapkan basecamp di kawasan Gelam Candi, Kabupaten Sidoarjo. Tempat ini direncanakan menjadi ruang pertemuan rutin, pusat koordinasi anggota, sekaligus lokasi pelaksanaan pelatihan dan diskusi komunitas.
Untuk memperkenalkan organisasi kepada masyarakat luas, IDJ juga tengah mempersiapkan agenda deklarasi resmi yang direncanakan digelar di GOR Delta Sidoarjo. Acara tersebut diproyeksikan menjadi momentum penting untuk mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam dunia dangdut—mulai dari penyanyi senior, talenta muda, musisi pengiring, hingga pelaku industri hiburan.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menampilkan potensi seni dangdut daerah sekaligus memperkuat jaringan kerja sama antar pelaku industri.
Kehadiran INSAN DANGDUT JAWA TIMUR disambut positif oleh sejumlah pemerhati seni di wilayah ini. Mereka menilai pembentukan organisasi tersebut dapat menjadi langkah awal dalam membangun sistem industri dangdut yang lebih terstruktur.

Meski demikian, tantangan terbesar bagi IDJ adalah menjaga konsistensi program serta membangun tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel. Tanpa implementasi nyata, semangat pembentukan organisasi dikhawatirkan hanya berhenti pada tahap simbolik.
Namun bagi para penggagas, berdirinya IDJ sudah menjadi langkah penting untuk memulai perubahan. Dengan dukungan para anggota dan pelaku seni lainnya, organisasi ini diharapkan mampu berkembang menjadi motor penggerak dalam memperkuat dangdut sebagai identitas budaya sekaligus bagian dari sektor ekonomi kreatif di Jawa Timur.
Dari Sidoarjo, sebuah langkah kolektif kini dimulai—dengan harapan bahwa dunia dangdut tidak hanya berkembang di atas panggung hiburan, tetapi juga tumbuh sebagai industri yang profesional, terorganisir, dan memberi kesejahteraan bagi para pelaku seninya.
Catatan Redaksi: Foto yang menyertai berita ini ditampilkan tanpa blur sesuai permintaan pihak terkait.


